Arsip Tag: Tata Nilai Budaya

Perda Tata Nilai Budaya Yogyakarta

Tugu YogyakartaPendahuluan

Manusia hidup memerlukan lingkungan di sekitarnya yang selanjutnya akan men­dukung kehidupannya sendiri. Lingkungan itu oleh masyarakat Jawa digambarkan menjadi sebuah simbol yang ujudnya adalah sebuah ‘gunungan’ (gunungan dalam pewayangan), suatu pohon kehidupan yang di dalamnya mengandung unsur-unsur api, angin, tanah, air dan udara. Bila kehendak ini dikaitkan dengan tempat-tinggal atau rumah dalam pengertian yang sebenar­nya, maka api dapat diartikan api, sinar matahari, sinar pene­rangan, panas dan suhu (kehangatan); angin adalah angin, aliran udara atau gas atau bau-bauan dan ventilasi (kelonggaran); tanah adalah tanah, bumi dan lahan – yang dimaksudkan di sini adalah lahan pertanian, pemukiman atau lahan kerja (landasan); air adalah air, kelembab­an, cairan, uap dan awan (kehidupan); dan, udara adalah gas, cuaca dan iklim (kosmos). Bila ditelaah secara lebih mendalam lagi, maka ungkapan-ungkapan tersebut menggambarkan tipe suatu tempat-tinggal yang mereka idam-idamkan, yaitu tempat yang layak untuk mengembangkan kehidupan budaya – masyarakat Jawa, yang di dalamnya mengandung persyaratan kenikmatan alamiah sebagaimana telah disebutkan tadi. Secara simbolis semua hal itu mengandung arti kehidupan, kehidupan yang sempurna dan diharapkan merupakan kehidupan yang kekal – sebatas jangkauan manusia. Lanjut membaca

8 Jiwa Pemimpin dalam Ajaran Hasta Brata

Agar pemimpin dapat memimpin dengan mumpuni, maka dia harus dapat meneladani watak dan tugas yang tercermin dalam ajaran Hasta Brata.  Hasta Brata adalah simbol alam semesta. Arti harfiahnya “delapan simbol alam”, tetapi sejatinya menyiratkan keharmonisan sistem alam semesta. Pada hakikatnya kedelapan sifat tersebut merupakan manifestasi keselarasan yang terdapat pada tata alam semesta yang diciptakan Tuhan, dan manusia harus menyelaraskan diri dengan tata alam semesta kalau ingin selamat dan terhindar dari malapetaka. Bila manusia, sebagai ciptaan Tuhan, bisa selaras dengan alam semesta, maka selaraslah kehidupannya. Menurut Yasadipura I (1729-1803 M) dari keraton Surakarta, Hasta Brata adalah delapan prinsip kepemimpinan sosial yang meniru filosofi/sifat alam, yaitu: Lanjut membaca