Dodik Setiawan Nur Heriyanto

Home » Law (Hukum) » Constitutional Law » Penanggulangan HIV/AIDS di DIY

Penanggulangan HIV/AIDS di DIY

My New Ideas

Law is not merely words but also reflecting more actions.

Oleh: Dodik Setiawan Nur Heriyanto

Mungkin ini posting pertama saya yang mana berisi tentang pengalaman saya dalam merancang suatu norma hukum khususnya dalam bentuk Rancangan Peraturan Daerah. Salah satu rancangan peraturan daerah yang sangat memberi kesan tersendiri bagi saya adalah Raperda Penanggulangan HIV dan AIDS. Pembentukan aturan ini didasari adanya fakta bahwa perkembangan dunia globalisasi menyebabkan para generasi muda kita terjerumus ke efek negatif surga dunia saat ini: seks bebas. Pola kehidupan seperti ini justru menimbulkan dampak jangka panjang yang tidak sehat karena umumnya dapat menyebabkan tertularnya Virus HIV dan AIDS.

Apa itu HIV dan AIDS?

AIDS (Aquire Immune Deficiency Syndrome) merupakan kumpulan penyakit yang diakibatkan karena menurunnya imunitas tubuh, pertama kali ditemukan di Amerika Serikat tahun 1981. Sindrom tersebut merupakan gambaran klinis yang timbul kemudian sebagai akibat infeksi oleh virus HIV (Human Immu-nodefficiency Virus). Sejak pertama kali ditemukan sampai 20 tahun terakhir ini infeksi HIV telah menyebar luas keseluruh dunia.

HIV menular dari beberapa mekanisme, dan yang paling populer adalah menular melalui hubungan seksual bergonta-ganti pasangan tanpa menggunakan kondom dan menggunakan alat suntik atau jarum yang melukai kulit tidak steril yang mungkin saja telah terkontaminasi dengan cairan tubuh yang telah mengandung HIV. Berdasarkan dua mekanisme ini maka teridentifikasi populasi berisiko tinggi tertular atau menularkan HIV. Populasi tersebut antara lain pekerja seks baik langsung maupun tidak langsung (laki-laki atau perempuan), pengguna narkotika suntik, waria, homoseksual atau laki-laki berhubungan seks dengan laki-laki, anak jalanan dan pelanggan pekerja seks. Meski populasi berisiko tinggi telah teridentifikasi, kemungkinan penularan HIV ke populasi yang memiliki faktor risiko rendah, seperti ibu rumah tangga, dan anak yang dikandung perempuan dengan HIV bisa saja terjadi.

Masa inkubasi HIV cukup panjang, berkisar 5 hingga 10 tahun. Orang yang terinfeksi HIV pada masa 3 sampai 6 bulan setelah terinfeksi belum menunjukkan reaksi serologis positif. Hal ini disebut sebagai periode jendela (windows period). Setelah menunjukkan reaksi positif, seseorang dengan HIV di dalam tubuhnya jika tidak melakukan perilaku hidup sehat atau tetap melakukan perilaku berisiko maka akan bermanifestasi sebagai AIDS. Manifestasi AIDS ditunjukkan dengan seringnya orang dengan HIV menderita penyakit-penyakit infeksi lainnya. Penyakit yang menyerang orang dengan kekebalan tubuh rendah disebut penyakit atau infeksi oportunistik. Manifestasi AIDS ini akan muncul kira-kira 5 sampai 10 tahun setelah dinyatakan mengidap HIV.

Penyakit atau infeksi oportunistik ini akan mengakibatkan seseorang menjadi sakit dalam waktu yang relatif panjang dan kehilangan waktu produktifnya. Waktu sakit yang panjang ini akan menimbulkan masa perawatan yang lebih panjang sehingga beban pelayanan masyarakat juga akan meningkat. Disamping meningkatnya beban pelayanan kesehatan, AIDS juga mengakibatkan kematian. Angka kematian disebabkan AIDS sebesar 18,96%. Kehilangan hari produktif dan kematian akibat AIDS ini bagi negara-negara berkembang merupakan permasalahan yang cukup serius.

Bagaimana epideminya di Indonesia?😦

Kasus AIDS di Indonesia pertama kali dilaporkan pada tahun 1987. Sejak pertama kali ditemukan hingga tahun 2000, telah terdiagnosis sebanyak 255 orang AIDS. Pada yahun 2001 didiagnosis 219 orang dengan AIDS, tahun 2002 sebanyak 345 orang dan tahun 2003 sebanyak 316 orang. Pada tahun 2004 terjadi peningkatan kasus yang cukup bermakna, yaitu sebesar 1.195 orang. Jumlah AIDS di Indonesia hingga Juli 2010 sebesar 21.770 orang dan jumlah kematian sebesar 4.128 orang. Jumlah AIDS didominasi oleh jenis kelamin laki-laki, yaitu sebesar 16.093 (73,92%) kasus, perempuan sebesar 5.578 (25,62%) dan tidak diketahui sebesar 99 (0,46%) kasus.

Faktor risiko penularan AIDS didominasi penularan melalui perilaku seks berisiko (heteroseksual) sebesar 10.722 (49,25%), homoseksual sebesar 718 (3,3%), intravenous drug user (IDU) sebesar 8.786 (40,36%), transfusi sebesar 20 (0,09%), perinatal sebesar 587 (2,69%), dan tidak diketahui sebesar 937 (4,30%).

Kelompok umur terbesar yang terdiagnosis AIDS adalah pada kelompok umur 20-29 tahun sebesar 10.471 (48,09%) kasus, dan kelompok umur terbanyak berikutnya yaitu pada kelompok umur 30-39 tahun sebesar 6.727 (30,90%) kasus. Usia produktif lainnya (40-49 tahun) yang terdiagnosis AIDS berjumlah 1.981 (9,09%) kasus. AIDS juga telah menyerang anak-anak di bawah 1 tahun melalui penularan dari ibunya yaitu sebesar 218 (1,0%) kasus, dan pada anak di bawah 5 tahun sebesar 152 (0,69%) kasus.

Bagaimana kemudian kondisi di DIY?

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada tahun 2005 ditetapkan sebagai provinsi dengan status epidemi HIV dan AIDS terkosentrasi atau concentrated epidemic level, yaitu penularan HIV terkosentrasi pada populasi tertentu. Status epidemi ini diperoleh dari hasil survey sentinel (2004) di kawasan di mana terjadi transaksi seksual yaitu di kelurahan Sosrowijayan Kecamatan Gedongtengen Kota Yogyakarta, yaitu sebesar 5,36%. Angka ini menggam-barkan situasi penularan HIV terkosentrasi pada populasi pekerja seksual.

Orang terpapar HIV di Provinsi DIY pertama kali didiagnosis pada seorang turis asing pada tahun 1993. Sejak tahun 1993, setiap tahun ditemukan kasus baru orang dengan HIV. Pada tahun 2000 ditemukan kasus baru orang dengan HIV sebanyak 5 kasus, meningkat pada tahuan 2001 sebanyak 12 kasus, pada tahun 2002 sebanyak 20 kasus, tahun 2003 sebanyak 31 kasus, dan pada tahun 2004 sebanyak 68 kasus. Pada tahun 2004 hasil survey sentinel sebesar 5,36%. Sejak tahun 2005, jumlah kasus orang dengan HIV terus meningkat. Hal ini disebabkan semakin baiknya sarana diagnosis dan semakin baiknya program penanggulangan HIV dan AIDS. Hingga Juli tahun 2010, jumlah kasus orang terinfeksi HIV sebesar 750 kasus.

Kasus AIDS pada tahun 1999 sebanyak 4 kasus, tahun 2000 sebanyak 2 kasus, tahun 2001 sebanyak 3 kasus, tahun 2004 19 kasus, tahun 2005 sebanyak 34 kasus, tahun 2006 sebanyak 23 kasus, tahun 2007 47 kasus, tahun 2008 sebanyak 43 kasus, tahun 2009 sebanyak 109 kaus dan sampai bulan Juli 2010 telah didiagnosis 167 kasus AIDS baru.

Infeksi HIV dan manifestasi AIDS merupakan fenomena kronis, artinya orang yang terinfeksi HIV akan terus mengidap HIV dikarenakan sampai saat ini belum ada obat yang dapat menghilangkan seluruh virus dari dalam tubuh manusia. Sehingga kasus baru harus ditambahkan dengan kasus lama yang telah ditemukan terinfeksi HIV sebelumnya. Gambaran kumulatif sering sekali menimbulkan kegelisahan berlebihan. Sebenarnya semakin banyak ditemukannya orang terinfeksi HIV maka menggambarkan program penanggulangan dan diagnosis HIV semakin baik. Semakin sering disampaikan bahaya penyakit AIDS yang bermula dari terinfeksi HIV, semakin banyak sarana pelayanan kesehatan yang mampu melakukan diagnosis HIV, maka semakin banyak orang yang ditemukan dengan HIV. Sehingga ditemukannya orang dengan HIV sampai jumlah tertentu merupakan gambaran dari efektifitasw program yang digulirkan untuk menanggulangi penyebaran HIV di masyarakat.

Jumlah kasus AIDS pada satu sisi menggambarkan semakin baiknya sarana diagnosis AIDS, tetapi pada satu sisi menggambarkan cepatnya manifestasi AIDS dari kondisi mengidap HIV pada seseorang.

Kasus infeksi HIV maupun kasus AIDS di Provinsi DIY didominasi oleh jenis kelamin laki-laki. Pada kasus HIV baru, laki-laki sebesar 432 (57,6%) kasus, perempuan sebesar 247 (32,9%) kasus dan tidak diketahui sebesar 71 (9,5%) kasus. Kelompok laki-laki yang terdiagnosis AIDS sebesar 351 (76,6%) kasus, perempuan sebesar 106 (23,14%) kasus dan tidak diketahui sebesar 1 (0,22%) kasus.

Kasus HIV dan AIDS di Provinsi DIY berdasarkan faktor risiko tidak berbeda dengan gambaran nasional. Faktor risiko penularan HIV didominasi oleh faktor risiko hubungan seksual berisiko berupa heteroseksual, sebesar 198 kasus, disusul oleh faktor risiko narkotika suntik (IDU’s) sebesar 83 kasus. Pada kasus AIDS juga didominasi oleh faktor risiko hetero seksual sebesar 236 kasus dan IDU’s sebesar 128 kasus. Faktor risiko lainnya adalah homoseksual sebesar 30 kasus pada infeksi HIV dan 12 kasus pada AIDS, perinatal sebesar 24 kasus infeksi HIV dan 15 kasus AIDS, biseksual sebesar 3 kasus pada infeksi HIV dan 1 kasus AIDS, transfusi darah sebesar 8 kasus pada infeksi HIV dan 2 kaus AIDS.Yang patut dipertanyakan adalah besarnya faktor risiko yang tidak diketahui pada kasus HIV yaitu sebesar 404 kasus dan 64 kasus AIDS.

Kasus HIV dan AIDS di Provinsi DIY terbanyak pada kelompok umur 20 – 29 tahun sebesar 333 kasus HIV dan 177 kasus AIDS. kasus HIV terbesar kedua pada kelompok umur 30 – 39 tahun, dan pada kasus AIDS pada kelompok umur 30 – 39 tahun sebesar 153 kasus. Gambaran ini persis dengan gambaran epidemi HIV dan AIDS nasional.

Distribusi kasus HIV dan AIDS tersebar di 5 wilayah kabupaten dan kota di Provinsi DIY. Distribusi terbesar terdapat di Kota Yogyakarta, diikuti oleh Kabupaten Sleman,Kabupaten Bantul, Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Gunung Kidul. Meski status epidemi di Provinsi DIY masih terkosentrasi pada populasi tertentu, namun kasus HIV dan AIDS telah dijumpai di beberapa latar belakang profesi atau pekerjaan. Wirswasta merupakan profesi terbesar terinfeksi HIV dan AIDS, yaitu sebesar 137 kasus. Narapidana memiliki jumlah terbesar terinfeksi HIV, yaitu sebesar 109 kasus dan 8 kasus AIDS. Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang terinfeksi HIV sebesar 3 kasus dan kasus AIDS sebesar 11 kasus. Perempuan Pekerja Seks (PSK) dengan HIV positif sebesar 87 kasus dan AIDS sebesar 2 kasus. Yang menghawatirkan adalah jumlah ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV sebesar 31 kasus dan AIDS sebanyak 59 kasus. Jumlah mahasiswa yang telah terinfeksi HIV sebesar 20 kasus dan AIDS sebanyak 24 kasus. Sungguh memprihatinkan bukan?

Penanggulangan HIV/AIDS di DIY dalam bingkai Perda

Peraturan Daerah Nomor 12 Tahun 2010 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS (bila ingin mengunduhnya silahkan klik disini) merupakan suatu komitmen nyata Pemerintah provinsi DIY dalam mengatasi permasalahan penyebaran HIV/AIDS di DIY. Aturan ini tampaknya tak berhenti dalam suatu dokumentasi dan publikasi hukum saja, namun memberikan adanya upaya persuasif dari seluruh instansi terkait di Pemerintah Provinsi DIY untuk menangani orang yang mengidap HIV dan AIDS. Upaya persuasif ini dilakukan dengan memberikan kesempatan bagi konselor untuk selalu berusaha memberikan konseling mengenai pergaulan yang sehat dan selalu menjunjung tinggi kerahasiaan status pengidap HIV dan AIDS. Sehingga ke depan diharapkan makin banyak pengidap HIV/AIDS dapat tertangani dengan cermat yang pada akhirnya dapat mengurangi tingginya grafik epidemi dari tahun ke tahun. Tak mengherankan setelah Perda Nomor 12 Tahun 2010 ini ditetapkan bersama antara DPRD DIY dan pemerintah Provinsi DIY di triwulan akhir tahun 2010 mendapat dukungan baik dari LSM, Organisasi kesehatan dunia, dan Pemerintah Pusat.

Mereka adalah teman kita. Mereka butuh motivasi dan dorongan agar tetap menjalani hidup dengan lebih baik. (Jogjakarta, 20 Januari 2011)

*) penulis adalah pemerhati penegakan hukum di Indonesia. Saat ini bekerja di Pemprov DIY.


2 Comments

  1. ADITYA says:

    pendrita HIV/AIDS tidak akan pernah habisnya yang akan selalu tumbuh dari masa kemasa. saya sebagai masyarakat jogja sangat mengapresiasi pemerintah jogja dengan diterbitkanya Perda Penanggulangan HIV/AIDS, ini menunjukan bahwa pemerintah peduli dengan rakyat nya. saya harap pemrintah jogja jangan hanya menanggulangi korban saja. menurut hemat saya pemerintah tentunya dapat mecegah timbulnya korban2 baru. istilah pepatah tidak ada asap mana mungkin ada api..permasalahan ini harus perlu pemotongan dari akarnya bukan pada batang nya yang dapat tumbuh selama akar masih menancap..tentunya ini merupakan tugas berat, tapi itulah tantanganya untuk menciptakan masyarakat sesuai sila pertama pancasila.

  2. Dodik Setiawan Nur Heriyanto says:

    kalau mas adit membaca perda yang sudah ditetapkan memang semangat dasarnya adalah selain mengurangi angka penderita HIV/AIDS yang sudah terdeteksi tetapi juga mencegah tambahan epidemi baru penderita HIV/AIDS. Khususnya didalam Raperda sudah diatur mengenai pasal tentang promosi dan kewajiban pelaku usaha dalam melakukan ajakan untuk tidak melakukan “free sex”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: