Dodik Setiawan Nur Heriyanto

Home » Law (Hukum) » Constitutional Law » Perda DIY tentang Penanggulangan Bencana

Perda DIY tentang Penanggulangan Bencana

My New Ideas

Law is not merely words but also reflecting more actions.

Merapi Mountain“Anugerah dan bencana adalah kehendakNya
Kita mesti tabah menjalani
Hanya cambuk kecil agar kita sadar
Adalah Dia di atas segala-galanya”

Petikan syair lagu Ebiet G. Ade yang berjudul “Untuk Kita Renungkan” diatas memberikan pesan kepada kita bahwa setiap bencana yang terjadi di negeri kita saat ini adalah kehendak Tuhan. Bencana tersebut hendaknya memberikan dorongan kita semakin sadar agar kita lebih mencintai alam lingkungan kita.

Bencana tentu tidak dapat kita prediksi datangnya. Namun, upaya pencegahan dan penanggulangan tentu dapat kita lakukan dari sekarang. Contoh kecil adalah seperti yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DIY yakni membentuk Peraturan Daerah tentang Penanggulangan Bencana di DIY. Perlu diketahui bahwa Perda ini justru dibentuk saat sebelum bencana merapi tahun 2010 terjadi, dan terlihat efektif implementasinya saat bencana merapi tersebut ditanggulangi dengan mengacu pada Perda tersebut.

Ragam Resiko Bencana di Yogyakarta

Yogyakarta sebagai salah satu wilayah di Indonesia terpengaruh secara langsung atas ancaman dan resiko bencana di atas. Gempa bumi cukup besar pada 27 Mei tahun 2006 silam  menimbulkan ribuan korban jiwa dan korban materi serta goncangan institusi sosial,  menjadi petunjuk nyata bahwa kondisi daerah ini tidak lepas dari ancaman bencana. Potensi bencana gempa dapat saja terulang atau sangat mungkin terjadi bencana dalam bentuk lain, mengingat wilayah Yogyakarta memiliki resiko bencana yang cukup beragam.

Beberapa ancaman bencana berikut tersebar di beberapa wilayah di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta:

  1. Letusan Gunung Api. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta cukup dekat dengan Gunung Merapi yang sangat aktif bahkan dikategorikan sebagai gunung merapi yang teraktif di dunia karena periodesitas dan intensitas letusannya cenderung pendek yaitu 3 – 7 tahun. Gunung merapi yang aktif menunjukkan  guguran kubah lava  (wedhus gembel  atau awan panas)  terjadi hampir setiap hari.
  2. Tanah Longsor dan Erosi. Ancaman tanah longsor di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta meliputi di empat Kabupaten yaitu Kulon Progo, Kabupaten Gunung Kidul, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Sleman. Terdapat 2 wilayah yang kerap terjadi tanah longsor  dan erosi yaitu di daerah Perbukitan Menoreh di Kabupaten Kulon Progo dan deretan perbukitan Baturagung Range di perbatasan Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunung Kidul.
  3. Banjir. Banjir juga sering terjadi karena daya serap tanah semakin lama makin berkurang akibat penebangan secara sembarangan atau tanpa adanya upaya reboisasi. Saat hujan datang, air akan berlalu di atas tanah tanpa ada yang menahan sehinga menimbulkan bencana banjir bandang. Banjir juga bisa disebabkan tertutupnya permukaan tanah oleh infrastruktur di atasnya seperti aspal jalan, konblok, jalan cor dan material infrastruktur lainnya. Potensi bencana banjir kerap terjadi di sempadan sungai – sungai besar seperti Sungai Opak dan sungai Progo, terutama di dataran banjir dan teras banjir. Selain itu banjir juga di dataran aluvial pantai dan back swam karena air tertahan oleh betting gesik. Kharakter banjir biasanya lebih disebabkan oleh luapan air sungai pada saat awal dan pertengahan musim hujan dengan intensitas hujan yang diatas rata-rata atau hujan dengan durasi yang lama. Adapun peta potensi banjir di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta antara lain; (a) Potensi Banjir Tinggi. Potensi banjir tinggi terjadi di Kabupaten Bantul (Kecamatan Kretek) dan Kabupaten Kulon Progo (Kecamatan Temon, Lendah); (b) Potensi Banjir Sedang. Potensi banjir sedang kerap terjadi di Kabupaten Sleman (Kecamatan Minggir, dan Kecamatan Prambanan), Kabupaten Bantul (Kecamatan Jetis, Kecamatan Pandak, dan Kecamatan Pajangan), dan Kabupaten Kulon Progo (Kecamatan Nanggulan, Kecamatan Pengasih, Kecamatan Temon, dan Kecamatan Kalibawang).
  4. Bencana Kekeringan. Ancaman bencana kekeringan dapat dilihat dari ketersediaan air untuk kebutuhan hidup manusia dan mahluk hidup lainnya termasuk binatang ternak dan tanaman. Jika kekeringan berlangsung dalam waktu yang panjang maka akan menimbulkan kerugian harta benda oleh karena itu harus diwaspadai dan dilakukan tindakan penanganan. Di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta kekeringan kerap terjadi di Kabupaten Gunung Kidul setiap tahun dikarenakan tanah setempat tidak mampu menyerap atau menahan cadangan air tanah. Potensi kekeringan di Daerah Istimewa Yogyakarta: (a) Kekeringan Tinggi. Kabupaten Gunung Kidul sebagian besar wilayahnya berpotensi kekeringan tinggi. Kabupaten Kulon Progo terdapat potensi kekeringan di beberapa kecamatan seperti Samigaluh, Kalibawang, Girimulyo, Kokap). Kabupaten Sleman potensi kekeringan terdapat di bagian atas lereng Gunung Merapi. (b) Kekeringan Sedang. Kekeringan sedang terdapat di Kabupaten Bantul (Kecamatan Pajangan, Kecamatan Gamping). Kekeringan sedang di Kabupaten Kulon Progo meliputi Kecamatan Sentolo, Kecamatan Pengasih, Kecamatan Lendah, dan Kecamatan Nanggulan.
  5. Tsunami. Potensi Tsunami di Daerah Istimewa Yogyakarta baik tinggi maupun sedang tersebar di 3 (tiga) Kabupaten yaitu; Kulon Progo (Kecamatan Galur, Kecamatan Panjatan, Kecamatan Temon, Bantul (Kecamatan Srandakan, Kecamatan Kretek, dan Kecamatan Sanden), dan Gunung Kidul (wilayah pantai dan tempat wisata seperti Pantai Kukup/Krakal, Sadeng).
  6. Angin. Angin ribut/puting beliung di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta hampir terjadi di semua Kabupaten/kota. Biasanya peristiwa angin ribut dapat dijumpai pada saat musim pancaroba pergantian dari musim kemarau ke musim hujan. Kejadiannya sangat dipengaruhi tekanan udara lokal sehingga sangat sulit untuk diprediksi maupun dipantau melalui citra satelit.
  7. Gempa Bumi. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya terletak di jalur subdaksi lempeng Indo – Australia yang menyusup ke lempeng Eurasia. Dengan demikian wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya merupakan wilayah yang sangat rawan gempa bumi tektonik maupun vulkanik. Catatan sejarah menyebutkan bahwa gempa besar sering terjadi di masa lalu. Di tahun 1867 pernah terjadi gempa yang mengakibatkan kerusakan rumah – rumah penduduk, kantor pemerintah kolonial dan keraton. Gempa besar 5,8 skala richter pada tanggal 27 Mei 2006 yang lalu terjadi karena lempeng Australia bergerak menunjam di bawah lempeng Eurasia dengan pergerakan  5 – 7 cm tiap tahunnya. Pada saat itu Episentrum diperkirakan terdapat di Muara sungai Opak-Oyo yang mereaktivasi sepanjang badan sungai hingga ke Prambanan yang sekarang disebut sesar aktif Kali Opak-Oyo. Potensi ancaman Gempa Bumi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta; (a) Gempa Bumi Tinggi. Kabupaten Bantul merupakan wilayah yang paling luas berpotensi terkena dampak gempa bumi karena secara fisik berhadapan langsung dengan samudera Indonesia. Area yang beresiko gempa tinggi termasuk 500 meter dari kali Opak dan jaluir patahan perbukitan Baturagung. Wilayah yang termasuk dalam kategori potensi gempa tinggi adalah sebagian kecamatan kretek, Pundong, Jetis, Piyungan, Pleret, Banguntapan, Imogiri, dan Prambanan. (b) Gempa Bumi Sedang. Wilayah yang katergori sedang dan rendah adalah jarak 1000 meter dari sungai besar di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta seperti sungai Progo, Opak dan Oyo.
  8. Epidemi dan Wabah Penyakit. Wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka. Epidemi baik yang mengancam manusia maupun hewan ternak berdampak serius berupa kematian serta terganggunya roda perekonomian. Beberapa indikasi/gejala awal kemungkinan terjadinya epidemi seperti avian influenza/Flu burung, antrax serta beberapa penyakit hewan ternak lainnya yang telah membunuh ratusan ribu ternak yang mengakibatkan kerugian besar bagi petani.

Selain berbagai ancaman diatas, perlu pula diantisipasi ancaman bencana yang terjadi karena kegagalan teknologi yang diakibatkan oleh kesalahan desain, pengoperasian, kelalaian dan kesengajaan manusia dalam menggunakan teknologi dan/atau industri. Dampak yang ditimbulkan dapat berupa kebakaran, pencemaran bahan kimia, bahan radioaktif/nuklir, kecelakaan industri, kecelakaan transportasi yang menyebabkan kerugian jiwa dan harta benda.

Dampak global warning dan/atau ulah manusia, ancaman berupa polusi air dan udara juga sangat mungkin terjadi di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, yang berakibat timbulnya korban dan kerugian besar bagi umat manusia.

Dengan melihat dan mengkaji berbagai ancaman tersebut, semakin tinggi ancaman bahaya di daerah, semakin tinggi resiko daerah terkena bencana. Demikian pula semakin tinggi tingkat kerentanan masyarakat, semakin tinggi pula tingkat resikonya, sebaliknya, semakin tinggi tingkat kemampuan masyarakat, semakin kecil resiko yang dihadapinya. Untuk menghadapi kemungkinan yang terjadi selain diperlukan analisis resiko diperlukan pula etos kerja dan profesionalisme dalam proses penanganan bencara yang sinergi dengan filosofi Sepi ing pamrih rame ing gawe”. Aktualisasi dari nilai ini adalah masyarakat perlu banyak bekerja dan tidak menghabiskan waktu untuk mengeluhkan bencana yang dialaminya.

Dengan mengadopsi kearifan lokal tersebut, penanggulangan bencana dapat dilakukan dengan lebih optimal karena diselaraskan dengan perkembangan teknologi yang memberikan kemudahan informasi, transportasi, dan komunikasi dalam penanggulangan bencana.

Oleh karena itu hendaknya setiap orang dalam pikiran dan perilakunya senantiasa bertujuan untuk melestarikan harmoni dan keindahan dunia, selalu memperhitungkan hubungan harmonis antara manusia dengan Sang Pencipta, antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan alam semesta serta makhluk lainnya (Hamemayu Hayuning Bawono).  Oleh karenanya manusia perlu meningkatkan kewaspadaan dan persiapan tanpa menunggu peristiwa memilukan itu terjadi.

Keburukan bumi adalah akibat ulah manusia. Oleh karena itu setiap manusia wajib mengasah ketajaman budi dan membersihkan keburukan yang ada di atas bumi (Mangasah Mingising Budi, Masuh Malaning Bumi). Akal budi manusia tidak akan pernah menjadi tajam (lantip) jika tidak diasah. Sehingga orang atau manusia yang memiliki akal budi yang tajam diharapkan mampu memberikan andil dengan “membersihkan” segala hal yang buruk yang terjadi di dunia, sekurang-kurangnya dirinya sendiri.

Ditinjau dari struktur masyarakatnya, Yogyakarta tergolong heterogen baik dari latar belakang etnik, agama, kelompok kepentingan, bahkan kelas.  Selain itu,  penghidupan masyarakat Yogyakarta, secara umum berasal dari sektor agraris, industri kecil sekitar 90% dari keseluruhan industri yang ada, perdagangan dan jasa, sebagian penduduk bekerja di sektor formal profesional (PNS, guru, dosen, pegawai swasta menengah dan besar) dan sebagian lain hidup dari industri wisata dan pendidikan. Pertautan antara kultur Jawa yang “guyup rukun” bertemu dengan konstruksi kaum menengah yang memiliki tingkat pengetahuan yang relatif tinggi menumbuhkan kaidah sosial dan norma konvensi yang berlaku di masyarakat yang ditandai oleh nilai-nilai: guyup rukun, kolektivitas dan solidaritas komunitas, merawat dan bukan merusak, budaya gotong royong saling membantu, dan etika penghargaan pada institusi agama dan sosial yang berakar dalam rentang historis, menghargai latar belakang yang berbeda, dan berorientasi kohesi sosial, merupakan modal sosial (social capital) yang kuat.

Penanggulangan Bencana di DIY dalam Bingkai Perda

Dengan memahami falsafah dan kondisi sosial di atas, penyelenggaraan penanggulangan bencana harus dilakukan secara terencana, terpadu, dan menyeluruh. Penyelenggaraan penanggulangan bencana bukan hanya terfokus pada kedaruratan melainkan keseluruhan tahap penanggulangan bencana dan menjadi bagian tak terpisahkan dari pembangunan. Penyelenggaraan penanggulangan bencana menjadi bagian dari tata pemerintahan yang harus dilandasi oleh prinsip-prinsip pemerintahan yang baik dan bersih (good governance), yaitu transparan, akuntabel, partisipatoris, dan berkelanjutan. Selain itu penyelenggaraan penanggulangan bencana juga dimaksudkan untuk membangkitkan dan memupuk solidaritas, kedermawanan, kegotongroyongan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Belajar dari pengalaman penanggulangan bencana masa lalu yang kurang memperhatikan pendekatan pengurangan resiko bencana, maka pembangunan sistem penanggulangan bencana yang baik perlu diselenggarakan dengan bertumpu pada prinsip-prinsip pengurangan resiko bencana (PRB). Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan peraturan pelaksananya sebenarnya telah mengatur berbagai hal yang berlaku secara umum di seluruh wilayah NKRI. Untuk mengoptimalkan berlakunya  Undang-Undang tersebut maka perlu dilengkapi dengan peraturan daerah yang selaras nilai-nilai yang tumbuh di masyarakat Yogyakarta.

Pembentukan Peraturan Daerah Provinsi DIY Nomor 8 Tahun 2010 tentang Penanggulangan Bencana (silahkan download dengan klik disini) sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) yang dijabarkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Terkait dengan pengaturan dalam RPJPD dan RPJMD pola penangulangan bencana di Yogyakarta diintegrasikan dengan pembangunan pendidikan, budaya, dan pariwisata. Untuk mencapai keberhasilan pengaturan ini dikehendaki adanya keterlibatan elemen pemerintah, masyarakat, organisasasi masyarakat, lembaga usaha, lembaga pendidikan, media, lembaga donor maupun pihak lain, yang dilaksanakan secara terencana, terpadu, terkoordinasi dan menyeluruh, baik  sebelum (pra-bencana), pada saat (tanggap darurat) maupun sesudah terjadi bencana (pasca bencana). Dengan kesiap-siagaan yang dimiliki bersama dalam satu koordinasi dan penanganan darurat bencana secara terkomando, maka diharapkan bencana yang terjadi tidak banyak menimbulkan korban dan kerugian serta dapat diatasi dengan lebih efektif, efisien, cepat dan tepat.

Dodik Setiawan Nur Heriyanto

*) Penulis adalah Pemerhati Penegakan Hukum di Indonesia dan saat ini tengah bekerja di Pemerintah Provinsi DIY


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: