Dodik Setiawan Nur Heriyanto

Home » Law (Hukum) » Constitutional Law » Perda Pendidikan Berbasis Budaya Jawa Ngayogyakarta

Perda Pendidikan Berbasis Budaya Jawa Ngayogyakarta

My New Ideas

Law is not merely words but also reflecting more actions.

Yogyakarta merupakan pusat pendidikan yang menjadi baromater dunia. Munculnya sekolah  berbasis Agama Islam yang dinamai Muhammadiyah di Yogyakarta menjadi awal dari pendidikan yang berkarakter khusus. Pada pada zaman kebangkitan nasional, Ki Hajar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa, yang sarat dengan muatan kebudayaan nasional, khususnya Jawa. Sejarah  kemudian mencatat, di awal kemerdekaan, dengan dukungan Sultan HB-IX berdirilah perguruan tinggi nasional Universitas Gadjah Mada (Nayati, et.al, 2006). Sejak saat itu,  berduyun-duyunlah anak-anak bangsa dari segenap penjuru tanah air dan dunia untuk studi di Yogyakarta. Mereka tidak saja belajar di dalam kelas, akan tetapi mampu menimba ilmu dari kehidupan keseharian masyarakat Yogyakarta.

Predikat sebagai pusat pendidikan, menjadikan Yogyakarta sebagai wilayah yang pluralistik dengan basis budaya Jawa yang kental. Yogyakarta menjadi wilayah kawah candradimuka—yang menempa mereka menjadi ilmuwan yang memasyarakat– bagi para pemuda Indonesia dan luar negeri untuk kemudian membangun dunia. Untuk itu, wajarlah bila slogan ‘Yogya Menyemesta’ (Nayati, et al, 2006) menjadi simbol Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam  kurun waktu berikutnya,  sejalan dengan perubahan yang dialami Indonesia dan dunia internasional, banyak faktor lain yang mempengaruhi perkembangan Yogyakarta. Daerah Istimewa Yogyakarta bertekad menjadikan Yogyakarta sebagai pusat pendidikan tak hanya untuk Indonesia, tetapi di Asia Tenggara dan dunia pada tahun 2025. Untuk mewujudkan cita-cita ini, diperlukanlan acuan dan pegangan penyelenggaraan pemerintahan dalam urusan pendidikan, yang dituangkan ke dalam Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Pendidikan di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2025 diharapkan menjadi Pusat Pendidikan, Pusat Budaya dan Daerah Tujuan Wisata Terkemuka di Asia Tenggara dalam lingkungan masyarakat yang Maju, Mandiri dan Sejahtera (RPJP DIY 2009-2025).  Untuk mewujudkan visi ini telah dirumuskan misi:

  1. Mewujudkan pendidikan yang berkualitas, berdaya saing  dan akuntabel yang didukung  oleh sumber daya pendidikan yang handal.
  2. Mewujudkan budaya adilihung yang didukung dengan konsep pengetahuan budaya, pelestarian dan pengembangan hasil budaya, serta nilai-nilai budaya secara berkesinambungan.
  3. Mewujudkan kepariwisataan yang kreatif dan inovatif.
  4. Mewujudkan sosiokultural dan sosioekonomi yang inovatif berbasis pada kearifan budaya  lokal, ilmu pengetahuan, dan teknologi bagi kemajuan, kemandirian dan kesejahteraan rakyat.

Secara umum, kondisi tersebut dapat dicapai dengan memperkuat budayanya.  Kehidupan berbudaya akan tercermin dari manusianya serta lingkungan pendukungnya yang akan membantu /mendorong manusia yang berbudaya. Orang-orang yang bersifat satriya untuk menjadikan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai pusat pendidikan, pusat kebudayaan dan tujuan wisata yang terkemuka di tahun 2025.

Pendidikan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi tumbuh dan berkembang  di provinsi-provinsi dan kabupaten-kabupaten di Indonesia—sadar bahwa pendidikan merupakan fondasi penting bagi kemajuan wilayahnya. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat (RENSTRA DIKPORA DIY). Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi (RENSTRA DIKPORA DIY).

Pemahaman atas falsafah Hamemayu Hayuning Bawana (sebagai VISI), Golong Gilig (sebagai SEMANGAT,) Nyawiji, Greget, sengguh  ora mingkuh (sebagai WATAKING SATRIYA NGAYOGYAKARTA) perlu dilakukan dalam pendidikan (baik formal maupun informal) .  Pemahaman falsafah di atas diperlukan sebagai suatu bagian dari proses penguatan  jatidiri dan pembentukan watak/karakter manusia berbudaya Jawa yang mampu mengembangkan kebudayaannya dalam kehidupannya sekarang dan yang akan datang, serta mampu menjadi pelecut pengembangan budaya lain di Indonesia dan di dunia. Hal ini penting karena Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai pusat pendidikan, pusat budaya, dan tujuan wisata bertaraf dunia, yang mampu menjadi candradimuka bagi masyarakatnya dan masyarakat yang hadir di Yogyakarta, sehingga akan muncul manusia berbudaya yang berwatak satriya untuk kebaikan, keutamaan, kesejahteraan dan kebahagiaan bersama.

Keinginan untuk melakukan penguatan dan pencerahan untuk kebaikan, kesejahtean dan kebahagiaan ini diperkuat oleh adanya fenomena yang menunjukkan ketidakserasian perkembangan intelektualitas dengan perkembangan moral dan karakter, yang juga marak dan menggejala secara nasional. Untuk itu berkembang wacana untuk menjadikan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai pusat pendidikan berbasis budaya (lokal dan pluralistik yang ada dan tumbuh di Daerah Istimewa Yogyakarta) menjadi sangat kuat. Apabila keinginan ini terwujud, Daerah Istimewa Yogyakarta tidak saja menjadi tujuan wisata alam dan sejarah akan tetapi juga sebagai acuan orientasi pembangunan pendidikan dan sumberdaya manusia yang mendunia.  Nilai-nilai budaya Jawa diangkat dan digunakan  secara tepat dan arif dalam mendasari dan melandasi pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebagai upaya untuk mencapai kondisi tersebut, pendidikan diarahkan untuk menghasilkan manusia Indonesia yang berkualitas, cerdas secara spiritual, emosional, sosial, intelektual, serta sehat fisik dan rohani, dan mampu mempertahankan dan mengembangkan budaya lokal guna menghadapi persaingan global. Kualitas manusia tersebut dapat diwujudkan  melalui penyeleng­garaan pendidikan yang bermutu, didukung tenaga pendidik yang berkualitas dan memenuhi standar kualifikasi serta kompetensi sesuai dengan tuntutan zaman.  Untuk itu penyelenggaraan pendidikan dalam kerangka pembangunan jangka panjang tersebut perlu dirumuskan dalam suatu Peraturan Daerah. Kini, Pemerintah Provinsi DIY dan DPRD Provinsi DIY telah menyepakati bersama Perda Nomor 5 Tahun 2011 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidika Berbasis Budaya (download disini).

Sumber: Naskah Akademik Raperda Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Budaya


2 Comments

  1. Bima says:

    Assalamu’alaikum

    Wuah mantab, Insya Allah Pendidikan berbasis budaya Jawa Ngayogjakarta berjalan seperti yang kita harapkan. Istimewa=Pluralis, adil, arif lingkungan dan manusiawi. Jadi informasi dan masukan yang berarti bagi saya yang awam hukum dan Kejawaan serta perkembangan Jogja.

    Wassalamu’alaikum

  2. Bima says:

    Alhamdulillah dapat info dan pelajaran berharga tentang Jogja masa depan. Insya Allah terlaksana ‘Sirna Ilang Angkaraning Bumi’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: