Dodik Setiawan Nur Heriyanto

Home » Law (Hukum) » Constitutional Law » Perda Provinsi DIY yang memproteksi Anak Jalanan

Perda Provinsi DIY yang memproteksi Anak Jalanan

My New Ideas

Law is not merely words but also reflecting more actions.

Anak JalananLatar Belakang Pembentukan Perda

Pembukaan UUD 1945 Alinea IV menegaskan bahwa tujuan dibentuknya Pemerintahan Negara Republik Indonesia adalah : Pertama; melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Kedua; untuk memajukan kesejahteraan umum. Ketiga : mencerdaskan kehidupan bangsa, dan keempat: ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Selanjutnya di dalam Pasal 34 UUD 1945 menegaskan :

  1. Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.
  2. Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.
  3. Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.

 Di dalam konsideran ”Menimbang”, Undang-Undang No. 6 Tahun 1974 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial menyatakan bahwa tujuan perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai masyarakat Indonesia yang adil dan makmur, baik materiil maupun spirituil yang sehat yang menjunjung tinggi martabat dan hak-hak asasi serta kewajiban manusia sesuai dengan Pancasila, hanya dapat dicapai apabila masyarakat dan negara berada dalam taraf kesejahteraan sosial yang sebaik-baiknya serta menyeluruh dan merata. Selain itu kesejahteraan sosial harus diusahakan bersama oleh seluruh masyarakat dan pemerintah atas dasar kekeluargaan.

 Fenomena anak yang hidup di jalan (atau yang selama ini kita kenal sebagai Anak Jalanan) merupakan salah satu permasalahan krusial yang menyertai proses pembangunan. Masalah anak yang hidup di jalan merupakan fenomena sosial yang tidak bisa dihindari keberadaannya dalam kehidupan masyarakat, khususnya yang berada di daerah perkotaan. Salah satu faktor yang dominan mempengaruhi perkembangan masalah ini adalah kemiskinan. Kemiskinan diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelompok dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga fisik, mental maupun spiritual dalam kelompok tersebut.

 Dinamika kehidupan anak yang hidup di jalan berjalan sinkronis dengan kompleksitas permasalahan perkotaan yang berakar pada kondisi kemiskinan yang ada di daerah perkotaan (urban) maupun di daerah pinggiran kota (ub urban). Sebagian besar dari mereka adalah para urbanisan yang tidak mempunyai bekal pendidikan dan ketrampilan yang memadai sehingga mereka tidak mampu memasuki sektor formal dan akhirnya mereka terpaksa bekerja seadanya di sektor informal. Mereka menciptakan pemukiman di sekitar pusat pertumbuhan ekonomi (central business district) dan membuat komunitas dalam kelompok orang-orang berpendapatan rendah atau kaum menengah kebawah (low income neighboorhoods). Dalam kehidupan perkotaan, keberadaan anak yang hidup di jalan sangat identik dengan munculnya kantong-kantong kemiskinan di beberapa wilayah perkotaan. Untuk menutup kebutuhan hidupnya, anak dipandang sebagai salah satu sumber daya dalam keluarga, mau tidak mau harus ikut bekerja demi tercukupinya kebutuhan hidup tersebut.

 Anak menjadi pelaku maupun sebagai korban akibat dari kesejahteraan yang tidak terpenuhi. Padahal setiap anak Indonesia adalah asset bangsa. Anak adalah amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa harus kita jaga karena dalam dirinya melekat harkat, martabat, dan hak-hak sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi. Hak asasi anak merupakan bagian dari hak asasi manusia yang termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan berdasarkan Konvensi Hak-hak anak yang sudah diratifikasi oleh Indonesia dengan Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990, dari sisi kehidupan berbangsa dan bernegara, anak adalah masa depan bangsa dan generasi penerus cita-cita bangsa, sehingga setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, berpartisipasi serta berhak atas perlindungan dari tindak kekerasan dan diskriminasi serta hak sipil dan kebebasan.

 Oleh sebab itu keberadaannya perlu dilindungi dan kesejahteraannya perlu ditingkatkan. Untuk perlindungan anak telah diamanatkan dalam Pasal 34 UUD 1945. Undang Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan anak, bagian konsideran “Menimbang”, menyebutkan bahwa anak adalah potensi serta penerus cita-cita bangsa yang dasar-dasarnya telah diletakkan oleh generasi sebelumnya. Agar setiap anak mampu memikul tanggung jawab tersebut, maka ia perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar secara rohani, jasmani maupun sosial.

 Di dalam masyarakat terdapat pula anak-anak yang mengalami hambatan kesejahteraan rohani, jasmani, sosial dan ekonomi. Pemeliharaan kesejahteraan belum dapat dilaksanakan oleh anak sendiri, sehingga kesempatan, pemeliharaan dan usaha menghilangkan hambatan tersebut hanya akan dapat dilaksanakan dan diperoleh bilamana usaha kesejahteraan anak terjamin. Hal ini ditegaskan kembali di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 1988 tentang Usaha Kesejahteraan Sosial bagi Anak yang Mempunyai Masalah.

 Sementara itu menurut Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak khususnya di dalam konsideran “Menimbang” menyebutkan bahwa negara menjamin kesejahteraan tiap-tiap warganegaranya, termasuk perlindungan terhadap hak-hak anak yang merupakan hak asasi manusia.

 Selain itu dalam Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak memberikan asas berdasarkan prinsip-prinsp dasar Kovensi Hak-hak Anak tersebut, yaitu :

  1. Non diskriminasi;
  2. Kepentingan yang terbaik bagi anak;
  3. Hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan;
  4. Penghargaan terhadap pendapat anak;

Secara umum materi muatan Peraturan Daerah tentang Perlindungan Anak yang Hidup di Jalan mengandung nuansa yang berbeda bila di bandingkan dengan produk hukum tertulis yang pada umumnya mengandung nuansa pendekatan yang sifatnya represif melalui penerapan sanksi yang tegas. Perda ini justru lebih lebih banyak mengarah pada pendekatan yang sifatnya preventif, rehabilitatif dan pemberdayaan., serta menitikberatkan pada upaya pemenuhan hak anak. Sehingga dalam konteks materi yang terkandung di dalamnya upaya-upaya penerapan sanksi tidak terlalu menonjol. Bahkan dalam berbagai ketentuan lebih banyak memberikan kewajiban bagi Pemerintah daerah dan/atau NGO maupun pihak swasta untuk selalu perhatian dan terlibat terhadap keberadaan anak yang hidup di jalan.

Muatan Perda Nomor 6 Tahun 2011

Berkaitan dengan hal inilah maka materi muatan yang diatur dalam Perda antara lain: Prinsip-prinsip perlindungan hak anak yang hidup di jalan (meliputi: non-diskriminasi, kepentingan yang terbaik bagi anak,hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan penghargaan terhadap pendapat anak), Tujuan perlindungan anak yang hidup di jalan (mengentaskan anak dari kehidupan di jalan; menjamin pemenuhan hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan; danmemberikan perlindungan dari diskriminasi, eksploitasi dan kekerasan, demi terwujudnya anak yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera), Tugas, dan Wewenang Pemerintah Daerah, Pelaksanaan Perlindungan Anak yang Hidup di Jalan, Upaya perlindungan anak yang hidup di jalan (meliputi: upaya pencegahan, upaya penjangkauan, upaya pemenuhan hak; dan/atau upaya pemulihan fisik, psikologis dan re-integrasi sosial), Pembentukan kelembagaan/Forum Perlindungan Anak yang Hidup di Jalan, Pembiayaan, Larangan, Ketentuan Penyidikan, Ketentuan Pidana, dan Ketentuan Penutup.

Sumber: Naskah Akademik Raperda Provinsi DIY tentang Perlindungan Anak yang Hidup di Jalan. Adapun Perda Nomor 6 Tahun 2011 tentang Perlindungan Anak yang Hidup di Jalan dapat diunduh disini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: