Syawalan: antara makna dan tradisi

Tadi malam (Rabu, 4 September 2012 (pukul 20.00 WIB-selesai) saya mengikuti pengajian, syawalan bersama serta pamit haji Jamaah KBIH Arofah. Kebetulan pengisi ceramah adalah Ustadz Prof. Muhammad yang dahulunya pernah menjadi dosen saya di Fakultas Hukum UII dengan subjek Islamic Banking. Pada tulisan kali ini akan saya coba simpulkan hal-hal menarik yang Prof. Muhammad sampaikan dan  ada juga yang saya tambahkan semata-mata untuk menambah wawasan pembaca sekalian.

Sudah menjadi tradisi kalau bulan syawal masyarakat Indonesia mengadakan kegiatan syawalan. Berbeda dengan di arab saudi dan di negara lain yang tidak ada budaya salam salaman pasca solat idul fitri.

Di bulan syawal diharapkan setelah bersalaman, persaudaraan menjadi rekat kembali. Selain itu, salaman pertanda kita saling memaafkan. Tentu bukan disamaartikan dengan ibarat kita mengetik dengan mesin tik, dan ketika salah ketik kemudian dihapus dengan tipe x (maaf sebut merek) maka tentu masih ada bekasnya. Nah, makna syawal yang suci adalah benar-benar menghapuskan dosa dan salah sampai benar-benar hilang dan ibarat suci kembali seperti bayi.

1 syawal pasti diawali dengan sholat idul fitri. Makna solat ini tentunya harus dimaknai dengan mendalam: tidak diartikan ritual tahunan. Contoh kecil, ketika mengucapkan takbir, kita sebagai manusia akan merasa kecil, ada kuasa yang lebih besar di jagad raya. Dialah Sang Maha Pencipta, Alloh SWT. Selain itu pasca solat ied, penceramah akan memberikan dakwah yang simpulannya berisi terkait hikmah-hikmah atas semua peristiwa dan rangkaian kegiatan di bulan Ramadhan dan Syawal. Keseluruhan hikmah ini yang akan mengingatkan kita dalam menapaki bulan-bulan selanjutnya pasca Ramadhan dan tentunya harus lebih baik dari bulan-bulan sebelumnya.

Setelah solat ied inilah di Indonesia dibudayakan silaturahmi. Dengan silaturahmi, persaudaraan dapat terikat dengan baik. Rasulullah mengajarkan bahwa barangsiapa menyambung silaturahmi maka akan dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya.

Setiap orang tentu punya salah. Orang yang baik tentu akan cepat-cepat minta maaf dan bertaubat setelah tau ia berbuat salah. Karena kita tidak tau kapan siklus hidup kita ini berhenti. Dengan cepat-cepat meminta maaf dan mengakui kesalahan, maka ketika kita diambil oleh Alloh maka insyaAlloh akan khusnul khotimah.

Dikarenakan agenda pengajian juga dibarengkan dengan agenda pamit Jamaah Haji KBIH Arofah yang akan berangkat di tahun 2012 akhir nanti. Dalam ceramahnya, Prof. Muhammad berpesan agar para calon jamaah haji mengikuti dan belajar dengan benar manasik haji agar ketika menunaikan rukun Islam yang terakhir.

Ketika menunaikan ibadah haji, para calon jamaah hendaknya selalu memperbanyak doa dan membaca Al Qur’an. Telah banyak pengalaman para jamaah haji dan umroh sebelumnya yang berpengalaman bahwa doa yang dipanjatkan dikabulkan oleh Alloh. Sehingga dimohon para calon jamaah haji untuk mempergunakan kesempatan waktu sebaik-baiknya untuk selalu ibadah, doa dan amalan-amalan baik lainnya.

Selama menunaikan ibadah haji, para calon jamaah juga hendaknya selalu mengikuti aturan yang berlaku di Arab Saudi. Diharapkan para calon jamaah berhati-hati atas barang bawaan dan juga perilaku disana.

Semoga para calon jamaah haji khususnya Jamaah Haji KBIH Arofah dan umumnya Jamaah Haji Indonesia diberikan kemudahan dan kelancaran selama menunaikan rangkaian ibadah haji dan semoga menjadi Haji yang Mabrur. Dan bagi yang belum berhaji semoga diberikan kekuatan dan kemampuan untuk menunaikan ibadah haji. Amin ya robbal ‘alamien.

*) Ditulis oleh: Dodik Setiawan Nur Heriyanto

Masjid Jamasba Kabupaten Bantul, 4 September 2012.

About Dodik Setiawan Nur Heriyanto

Dodik Setiawan Nur Heriyanto was born in Bantul (Yogyakarta’s Special Region) in 1986. He is a permanent lecturer of Faculty of Law, Islamic University of Indonesia. His educational background: 2004-2008: Bachelor of Law (SH) International Program, Faculty of Law, Islamic University of Indonesia; 2008-2009: Master of Law (MH), Faculty of Law, Islamic University of Indonesia; 2014-2015: Master of Law (LLM), Faculty of Law, University of Debrecen; and 2015-2017: PhD Candidate (cPhD), Gèza Marton Doctoral School of Legal Studies, University of Debrecen, Hungary. He was awarded as the Best Student of the University and received Gold Medal Award of Islamic University of Indonesia in 2008, Balassi Institute Scholarship to support his study in Hungary, and Campus Hungary Scholarship to support his research in Faculty of Law, University of Utrecht (Netherland). His research areas are International Law, Law and International Relations, International Private Law, and also Diplomatic and Consular Law. You may reach him by e-mail: dodiksetiawan@uii.ac.id
This entry was posted in Culture (Budaya), Dakwah Islamiyah, Personal Experience and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Syawalan: antara makna dan tradisi

  1. Pingback: Merajut Harmoni Syawal | bijak.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s