Dodik Setiawan Nur Heriyanto

Home » Law (Hukum) » Islamic Law » Islamic Renaissance

Islamic Renaissance

My New Ideas

Law is not merely words but also reflecting more actions.

Sheikh Imran Hosein

Hari ini saya *) mendapatkan kuliah Islam yang diberikan oleh Sheikh Imran Hosein dari Amerika Serikat dan Professor Jawahir Thontowi (Guru Besar UII) di Masjid Syuhada Yogyakarta. Tema kuliah Islam adalah terkait dengan Islamic Renaissance (Kebangkitan Islam). Sheikh Imran sendiri sudah sekitar 10 (sepuluh) tahun tinggal di Trinidad, Amerika Serikat untuk berdakwah dan mensyiarkan Islam di berbagai masjid di negara Paman Sam. Saat ini beliau diberikan kewarganegaraan tetap di Malaysia berdasarkan permintaan mantan Perdana Menteri Malaysia, DR Mahathir Mohammad. Sekembalinya dari Indonesia, Sheikh Imran langsung tinggal dan menetap di Malaysia bersama keluarganya. Kunjungannya di Indonesia kali ini adalah selain berdakwah juga menjadi salah satu narasumber dalam Seminar Internasional yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum, Universitas Islam Indonesia pada hari Sabtu, 26 Januari 2013 yang akan datang.

Tema tentang Islamic Renaissance sangat tepat dibahas karena Syekh sendiri menggambarkan bahwa kondisi umat Muslim saat ini sangat memprihatinkan dimana zionis dan pihak-pihak yang tidak menyukai Islam mencoba untuk mengkerdilkan perkembangan ajaran Islam. Selain itu juga dibahas bagaimana ikhwatul muslimin menghadapi tantangan modernisasi yang jauh dari nilai-nilai Islam.

Saat ini muncul kebangkitan Arab (Arab spring) yang baru dimana kebangkitan ini ditandai adanya sebuah khalifah yang dapat mengatur seluruh umat muslim di dunia. Namun nampaknya kebangkitan Arab saat ini tidak memiliki kekuasaan (power). Padahal semua berharap agar kebangkitan Arab saat ini bisa sama dengan kebangkitan arab yang sudah terjadi sebelumnya pada masa kekhalifahan. Satu-satunya cara membuka memperkuat kebangkitan Arab saat ini yakni dengan cara memberikan suri tauladan yang baik kepada semua umat manusia bahwa Islam adalah memiliki ajaran yang benar sehingga dunia akan melihat bagaimana Islam secara baik dapat mengatur seluruh dunia ini.

Saat ini mesir merupakan negara yang menghalangi penerapan syariah karena pada saat ikhwanul muslimin menerapkan syariah di mesir kemudian dihalang-halangi dan bahkan sebagian masyarakatnya menganggap bahwa Islam memiliki ajaran yang buruk dan agama yang sering menjadi bahan tertawaan di seantero dunia. Mengapa ditertawakan? Contohnya saja Islam selalu saja dekat dengan kasus pedofilia atau masalah poligami dan sering kasus-kasus semacam ini dibahas setiap waktu di kantor berita internasional seperti al-jazeera dan CNN.

Memang benar ada hadist yang menyatakan bahwa Rasulullah menikahi Aisyah pada saat dia berumur 6 tahun. Hadist ini sebenarnya tidak cocok dengan giudeline di dalam Al-Qur’an. Sesungguhnya bilamana hadist ini bertentangan dengan al-quran maka harusnya ditinggalkan dan tidak dipakai. Tapi malah justru hadist yang semacam ini digunakan untuk melemahkan Islam. Padahal untuk menentukan keshohehan hadist, dalam Islam sudah sangat rigid sekali mengaturnya.

Contoh lain adalah hukuman rajam untuk seseorang yang berzina. Ketika ada hukuman rajam dilaksanakan di suatu kasus di negara yang menerapkan syariah kemudian prosesi penghukuman tersebut disiarkan di seluruh televisi di dunia. Dan disaat itulah mulai penonton dari seluruh manusia mengutuk hukuman rajam tersebut dengan dasar bertentangan dengan nilai Hak Asasi Manusia. Padahal rajam sudah sangat jelas diatur dalam Al-Qur’an.

Menurut Sheikh Imran, ada dua hadist yang sangat mungkin dipalsukan dan di manipulasi di saat ini dan masa yang akan datang yaitu hadist tentang Aisyah dan hadist tentang rajam. Hal semacam ini adalah sebagian dari rencana dari zionis untuk menghancurkan Islam di masa yang akan datang. Masalah-masalah semacam ini tentunya harus menggugah kita untuk meneliti lebih lanjut sesuai dengan bidang-bidang kita untuk menghadapi tantangan kehancuran Islam yang direncanakan oleh pihak-pihak yang tidak menyukai dan menentang keberadaan IslamMenariknya perkuliahan yang diberikan Sheikh Imran Hosein, saya pun tergugah untuk bertanya. Dikarenakan beliau berceramah menggunakan bahasa Inggris maka saya pun bertanya dengan bahasa yang sama: “Is that possible to modified islamic law based on Quran and Hadist into the modern law? Why i asking about this because the impossibility to implement islamic law in the country which exist different religious belief and follower such as indonesia and etc.”

Dengan bahasa Inggris Sheikh yang setiap sebulan sekali menjadi Imam Sholat Jumat di Masjid Perserikatan Bangsa-Bangsa ini-pun memberikan analisa dengan jawaban sebagai berikut:

We have to decide that which part of syariah: syariah based on saudia arabia or syariah based on Muhammad guidance. Syariah in Saudi Aarbia called as cosmetic syariah because Saudi Arabia does not implement Syariah law totally (indication that they used paper money as the daily payment). We cannot used dinar and dirham if we are the member of IMF (International Monetary Fund) because its own agreement that prohibitted dinar and dirham as money. We cannot enforce Islamic Law if we are not  using dinar and dirham as our state money. Also since we are the member of United Nations, it is impossible for us to implement islamic law.

How to respond this problem? This is the duty of ulama who always stand up in the mimbar to teach dinar and dirham as our money. The another duty of ulama is to teach that if the seller does not want to get dinnar as the payment or they asked paper money as the payment, this is called as sins.

Saat ini dikarenakan banyak negara merupakan anggota IMF dan PBB, maka negara-negara tersebut tidak dapat menggunakan dinar dan dirham sebagai alat pembayaran. Buktinya negara-negara Islam saat ini menggunakan uang kertas sebagai konsekwensi mereka menjadi anggota PBB dan/atau IMF. Untuk melaksanakan Syariat Islam secara total, salah satu indikatornya adalah menggunakan dinar dan dirham sebagai alat pembayaran. Dikarenakan kebanyakan negara menggunakan uang kertas, maka mereka belum dapat dikatakan menerapkan Syariat Islam. Bahkan menurut Sheikh Imran sendiri, hukum Syariat yang diterapkan di Arab Saudi dianggap sebagai “hukum kosmetik”, dimana belum sepenuhnya Syariat Islam ditegakkan.

*) Dodik Setiawan Nur Heriyanto (Masjid Syuhada, Yogyakarta, 20 January 2013).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: